Bukit Lawang, Sumatera Utara (part 1 – on the way)

3 mins read

Bukit Lawang merupakan destinasi ketiga yang saya kunjungi dalam 9 hari perjalanan ke Sumatera Utara. Ketiga dan paling berkesan. Traveling solo merupakan salah satu bucket list saya dan berhasil diwujudkan dalam trip ke Bukit Lawang ini :)

Pemandangan di pintu masuk
Pemandangan di pintu masuk

Perjalanan sebelumnya dari Berastagi dan dikasih 2 pilihan untuk menuju Bukit Lawang: pakai travel (Rp. 100.000) dijemput jam 1 siang dan langsung ke Bukit Lawang, perjalanan sekitar 5 jam atau naik bus umum ke Medan (2 jam + Rp. 10.000) dilanjutkan dengan bus umum ke Bukit Lawang (3 jam + Rp. 15.000). Untungnya saya udah nggak tau mau ngapain di Berastagi, jadinya saya memutuskan untuk ke Medan dulu dan ganti bus menuju Bukit Lawang. Bus menuju Medan ada beberapa macam, saya dikasih tau untuk naik yang judulnya “Muria” karena bus itu ujungnya ada di terminal Pinang Baris dimana bus lanjutan untuk menuju Bukit Lawang pusatnya disana.

Perjalanan solo dimulai kira-kira 20 menit sebelum bus masuk terminal. Saya pisah sama teman saya karena dia mau melanjutkan ke area Mesjid Raya. Di dalam bus pun isi penumpangnya hanya saya + supir bus + kenek. Tegang? Banget! Mukanya si kenek yang mesem-mesem nggak jelas dan banyak nanya, ditambah posisi duduk saya yang nggak deket sama pintu (pikiran terburuk saya kalo ada apa2 bisa loncat keluar atau tereak2). Ternyata, muka boleh sangar tapi baik… Tiba di terminal dia anterin saya turun dan titipin ke penjual tiket bus jurusan Bukit Lawang, kemudian dia naik bus lagi dan kembali bekerja. Terima kasih ya, Bang! :)

Perjalanan 3 jam menuju Bukit Lawang rupanya naik L-300, bukan bus besar. Berangkat dari Medan hanya ada 2 penumpang, mumpung sepi saya pun awur-awuran jemur baju renang dan handuk :D Tiba di Binjai rupanya ngetem dulu, cukup lama sekitar 30 menit (dan cuacanya panas bangetttt) sampe supirnya dimarahin sama ibu-ibu… Hihihi… kira-kira 1 jam perjalanan dari Binjai suasana mulai berubah, sekeliling adalah hutan karet dan pohon-pohon apa saya nggak tau ditambah mulai terdengar bunyi gemericik sungai ^.^

Menuju gerbang Bukit Lawang
Menuju gerbang Bukit Lawang

Penumpang mulai turun saat makin mendekati Bukit Lawang dan perasaan saya makin sumringah. Turun dari mobil supirnya dengan baik hati bertanya ke saya apa ada yang jemput? saat dia tau saya sendirian dengan sigapnya langsung manggil becak. Jadi dari terminal di Bukit Lawang untuk menuju pintu masuk area penginapan-penginapannya bisa sih jalan kaki mungkin sekitar 25-35 menit, cuma saya males lagipula udah sore jadinya milih naik becak aja (Rp. 5.000 udah standar harganya).

Begitu masuk area Bukit Lawang disambut dengan bunyi air sungai Bahorok dan udara yang sangat sejuk… and from that moment I knew I am gonna love this place :)

gemericik air sungai jadi lagu sehari-hari
gemericik air sungai jadi lagu sehari-hari

3 Comments

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Previous Story

Gorontalo, Hidden Paradise

Next Story

Medan… Bawa oleh-oleh apa?

Latest from Blog

Makanan enak di perjalanan

Selama dalam perjalanan wisata nyobain makanan enak selalu masuk di agenda saya. Selain Semarang yang buat saya makanannya

2013 Trips

Yang belom sempat join trip kita di tahun 2012, berikut kami sampaikan jadwal trip yang bisa